Sang Ayah Memotivasi Mkhitaryan

Ketika masih kecil, Henrikh Mkhitaryan ditingalkan oleh seorang ayah yang telah meninggal dunia. Hal itu ternyata menjadi sebuah motivasi bagi Mkhitaryan sampai sekarang menjadi seorang pemain sepakbola oke.

Mkhitaryan merupakan seorang putra dari Hamlet Mkhitaryan, bekas pemain tim nasional Armenia, dan Marina Taschian. Hamlet tiada di tahun 1996 saat menginjak umur 33 tahun karena menderita penyakit tumor otak. ketika itu, Henrikh baru berusia 7 tahun.

Mkhitaryan melangkah seperti ayahnya dengan menjadi pemain sepakbola. Memulainya di klub Armenia FC Pyunik, lalu ia hijrah ke Ukraina dan bermain untuk Metalurh Donetsk. Dari Metalurh Donetsk, ia melanjukan perjalanannya ke Shakhtar Donetsk.

Mkhitaryan semakin naik usai dirinya bermain untuk Shakhtar pada tahun 2010–2013. Performanya yang meyakinkan telah membuat Borussia Dortmund tertarik dan merekrutnya ke Jerman.

Usai selama 3 musim bermain untuk Dortmund, Mkhitaryan pindah ke Inggris dan bersama dengan Manchester United. Pemain gelandang serang yang berumur 27 tahun tersebut jadi seorang pemain yang direkrut oleh Jose Mourinho sang manajer baru MU.

“Ia merupakan penyemangat saya, maka dirinya merupakan sosok yang memotivasi saya sebab saat saya masih kecil ia tampilkan sepakbola dengan profesional dan saya selalu memiliki mimpi untuk dapat keluar dengannya ke lapangan latihan. Impian saya ialah melanjutkan langkahnya dan juga menjadi pemain sepakbola,” ucap Mkhitaryan soal almarhum ayahnya.

“Ia ketika itu menginjak usia 33 tahun. Saya masih berusia 7 tahun. Maka itu begitu terasa menyedihkan, namun seperti itulah hidup,” ujar Mkhitaryan.

“Hidup berlangsung dan saya ingin ia menyaksikan saya dengan bahagia dari atas sana. Saya berupaya untuk mejalankan semuanya hanya untuk membuat dirinya merasa bangga,” imbuhnya.

 

Leave a Reply