Tag Archives: Inggris

Jermain Defoe Bersama Tim nasional Inggris Lagi

Usai lebih dari 3 tahun tak tampil, Jermain Defoe raih panggilan lagi dari timnas Inggris. Defoe dipanggil untuk pertandingan menghadapi Jerman dan Lithuania.

Nama Defoe dalam daftar 26 pemain yang dipersiapkan oleh manajer Gareth Southgate untuk melangsungkan laga persahabatan berhadapan dengan Jerman di Dortmund pada tanggal 22 Maret yang akan datang dan laga kualifikasi Piala Dunia 2018 berhadapan dengan Lithuania di Wembley 4 hari selanjutnya.

Dipanggilnya Defoe adalah sebuah hadiah karena performa meyakinkan dari pemain striker yang berumur 34 tahun tersebut di musim ini. Walau hanya bermain untuk tim papan bawah Sunderland, ia terus produktif dan ciptakan 14 angka. Defoe pun dibuat untung dengan menepinya Harry Kane dan Wayne Rooney yang tengah mendapat cedera.

Defoe sampai sekarang ini catatkan 55 caps dengan tim nasional Inggris dan telah catatkan 19 angka untuk The Three Lions. Tetapi, terakhir kali ia bermain untuk tim nasional ialah di pertandingan menghadapi Chile pada bulan November 2013 silam, di Wembley.

“Terima kasih atas semua pesan kalian! Tampil bersama Inggris merupakan mimpi saya sedari hari pertama, maka dapat kembali pada skuat seperti amat luar biasa untuk saya,” ucap Defoe berhubungan dengan panggilan ini.

Pada garis depan, Southgate pun datangkan pemain penyerang muda Manchester United yaitu Marcus Rashford dan striker Leicester City Jamie Vardy.

Skuat Inggris:

Kiper: Fraser Forster (Southampton), Joe Hart (Torino), Tom Heaton (Burnley)

Bek: Ryan Bertrand (Southampton), Gary Cahill (Chelsea), Nathaniel Clyne (Liverpool), Phil Jones (Manchester United), Michael Keane (Burnley), Luke Shaw (Manchester United), Chris Smalling (Manchester United), John Stones (Manchester City), Kyle Walker (Tottenham)

Gelandang: Dele Alli (Tottenham), Michail Antonio (West Ham), Ross Barkley (Everton), Eric Dier (Tottenham), Adam Lallana (Liverpool), Jake Livermore (West Brom), Alex Oxlade-Chamberlain (Arsenal), Nathan Redmond (Southampton), Raheem Sterling (Manchester City), James Ward-Prowse (Southampton), Jesse Lingard (Manchester United)

Penyerang: Jermain Defoe (Sunderland), Marcus Rashford (Manchester United), Jamie Vardy (Leicester City).

Walaupun Dapatkan Sepatu Emas, Defoe Belum Tentu Ke Timnas Inggris

Jermain Defoe merasa kalu dirinya tidak miliki lagi peluang untuk masuk skuat Tim nasional Inggris. Malah walaupun ia dapatkan ‘Sepatu Emas, Defoe belum yakin dapat ditunjuk.

Defoe dengan umur 34 tahun sekarang ini masih menunjukkan kebolehannya di atas lapangan dengan angka yang ia cetak bersama Sunderland. Pada musim ini saja Defoe telah ciptakan 8 angka lewat 14 performa di liga.

Terutama pada musim kemarin, Defoe sukses selamatkan Sunderland dari zona degradasi usai ciptakan 15 angka. Bagaikan pepatah, tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi. Itu adalah Defoe sekarang ini.

Pada umurnya yang telah uzur untuk seukuran pemain striker, Defoe masih tunjukkan performa oke dan menjadi pemain pilihan utama di klubnya sekarang ini.

Dengan kebolehan Defoe ini semestinya telah dapat menjadi andalan juga bagi timnas. Pada pada masa Roy Hodgson kemarin, Defoe malah tak sering diminta tampil ke tim nasional termasuk tidak ikut pada Piala Dunia 2014.

Sama halnya di periode Gareth Southgate saat Defoe tidak juga raih panggilan tampil. Walau begitu, para media Inggris meramalkan bahwa Defoe pasti masih ada 1 posisi pada skuat ‘Tiga Singa’.

Namun Defoe tidak ingin pikirkan hal tersebut dan juga tak yakin bahwa ia masih dapat kembali menggunakan kostum timnas. Sedari debutnya pada tahun 2004, Defoe catatkan 55 caps dan 19 cetak angka. Terakhir kali bermain untuk tim nasional ialah pada tahun 2013 kemarin.

“Saya masih belum dengar apa-apa. Saya memang tak ingin pasrah saja, namun bakal ada waktunya Anda untuk memikirkan, ‘Mungkinkah hal ini bakal terwujud?’,” ucap Defoe.

“Saya merasa oke, saya tak pernah merasakan rasa fit seperti saat ini,” lanjutnya.

“Saya nikmati jalannya latihan tiap hari, saya merasa hebat, kuat, bugar, dan yakin dan hal tersebut amat penting untuk seorang pemain striker.”

“Namun saya merasa seperti apapun usaha yang sudah saya lakukan, malah kalau raih sepatu emas, saya juga tak yakin bakal dipanggil.”

“Saya tak suka berbicara tentang hal tersebut. Saya tak ingin sang manajer (David Moyes) memohon pada Southgate sebab Anda dipanggi kalau dianggap layak. Maka biar performa saya yang berbicara,” demikian kata Defoe.

Southgate Menunggu Jawaban

Penampilan Inggris ketika berhadapan dengan Spanyol telah mengundang sanjungan. Apakah ini berarti langkah Gareth Southgate ke arah posisi permanen pelatih Inggris makin lancar?

Pertandingan friendly melawan Spanyol yang berlangsung pada hari Rabu (16/11/2016) dinihari WIB, di Wembley, menjadi pertandingan keempat serta yang terakhir bagi Southgate yang menempati kursi pelatih interim Inggris.

Pada pertandingan itu, Southgate yang memainkan tim berbeda ketika mereka tundungkan Skotlandia dengan skor 3-0 Jumat kemarin, menunjukkan kombinasi taktik yang apik ketika mereka dapat raih keunggulan dengan skor  2-0 atas Spanyol dengan angka yan diciptakan oleh Adam Lallana (penalti) dan Jamie Vardy.

Lewat aspek statistik juga, Inggris lakukan 4 percobaan yang mengarah ke gawang dari total 8 percobaan selama 90 menit. Namun, Inggris tak berhasil pertahankan serangan Spanyol pada 15 menit akhir laga dan perlu merasa puas dengan hasil seri 2-2 setelah Iago Aspas (menit ke-89) dan Isco (menit ke-96) membobol gawang Tom Heaton.

Hasil seri kedua Southgate lewat 4 pertandingan memimpin Inggris usai tampil imbang dengan skor 0-0 melawan Slovenia bulan kemarin. 2 pertandingan lain berujung positif melawan Malta (2-0) dan Skotlandia.

Sekarang, Southgate telah menunjukkan bukti nyata tentang dirinya apakah layak memimpin tim senior atau tak. Tinggal apa yang petinggi FA jatuhkan tentang keputusan siapa yang layak gantikan tempat Sam Allardyce.

“Saya bakal merasa amat senang melakukan hal tersebut, namun hal tersebut bukan keputusan yang dapat saya putuskan,” ucap Southgate.

“Saya merasa bangga dengan apa yang sudah tim ini perbuat. Kami diminta untuk ambil alih tim sementara dan penampilan pada malam ini amat luar biasa,” lanjutnya.

“Saya perlihatkan kalau saya dapat memimpin sejumlah pertandingan besar seperti ini. Saya amat tahu potensi yang saya miliki, namun Anda tak akan pernah tahu sampai seperti apa Anda sampai berhadapan dengan pertandingan seperti hari Jumat kemarin (melawan Skotlandia) yang berjalan di bawah tekanan besar atau mengadu strategi seperti berhadapan dengan Spanyol.”

“Saya merasa amat senang dengan pengalaman ini dan tentunya puas dapat melakoni tugas yang di berikan pada kami,” ujarnya.

Inggris Raih Poin Berkat Usaha Hart

Inggris dapatkan 1 poin lewat markas Slovenia usai tampil dengan skor imbang tanpa cetak angka 0-0 di laga lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2018. Poin tersebut diraih dengan kerja keras lewat performa meyakinkan dari Joe Hart.

Laga yang berlangsung pada hari Rabu (12/10/2016) dinihari WIB, di Stadion Stozice, Ljubljana, Inggris sering kali diberi ancaman oleh Slovenia. Tuan rumah meraih beberapa kesempatan baik untuk menciptakan angka.

Namun Hart bermain prima untuk selamatkan gawang Inggris. Penjaga gawang yang sedang menjadi pemain yang dipinjamkan pada Torino tersebut paling tidak sudah lakukan 3 kali penyelamatan apik untuk gagalkan kesempatan Slovenia untuk mencetak angka.

Hart gagalkan kesempatan Roman Bezjak dan Josip Ilicic yang hanya tinggal bertatap muka dengannya usai mengoptimalkan kesalahan pemain Inggris saat memberi operan bola. Pada awal babak kedua, Hart kembali berjibaku untuk selamatkan gawang Inggris. Ia tepis tandukan dari Jasmin Kurtic dengan tangan kirinya, bola terbentur mistar gawang, dan Hart merespon dengan baik untuk menghalau bola dengan tangannya.

Penampilan dari Hart itu dapatkan pujian dari Gareth Southgate sang manajer interim Inggris. Ia juga tidak segan untuk akui kalau Inggris daoat pulang dengan membawa 1 poin karna performa penjaga gawang yang berumur 29 tahun itu.

“Incaran secara menyeluruh ialah lolos, menjadi jangka panjang ini mungkin menjadi poin penting. Semua orang dapat menyaksikan kami dapat lebih oke, namun beberapa kesempatan mereka lahir lewat kesalahan kami atau bola mati,” ucap Southgate.

“Raih poin di sini, amat berutang pada penjaga gawang kami. Ia begitu luar biasa. Ia dalam penampilan paling okenya saat ia tenang, hal tersebut merupakan sesuatu yang telah kami bicarakan dan pekan ini sikapnya yang diperlihatkannya amat tenang,” sambung Southgate.

Pemain Setuju Kalau Timnas Inggris Sekarang Menjadi Candaan

Kasus Sam Allardyce dikatakan bikin timnas Inggris menjadi bahan candaan dunia. Pemain dari The Three Lions yaitu Danny Rose juga tidak bisa tidak menyetujuinya.

Allardyce hanya mengarahkan tim nasional Inggris melangsungkan 1 laga saja. Ia dihentikan kontrak oleh Asosiasi Sepakbola Inggris (FA) usai cuma 67 hari menjadi seorang manajer sebab terikat dengan skandal memalukan.

Kejadian ini dikatakan Alan Shearer, pencatat 63 caps bersama Inggris, adalah sebuah hal yang memalukan. Ditambah lagi pada ajang Piala Eropa kemarin tim nasional pun dipermalukan oleh tim kecil seperti Islandia.

“Saya menyaksikan Alan Shearer menyatakan sepakbola Inggris sudah menjadi sebuah bahan lelucon. Ini tak mudah untuk dikatakan, namun saya sedikit menyetujuinya dengan seorang manajer yang kehilangan kursi jabatannya usai 1 pertandingan,” ucap Rose.

“Hal tersebut tak baik dalam hal apapun dan bagaimanapun sikap yang sudah diputuskan oleh FA usai 4 laga (bersama Gareth Southgate), saya ingin manajer Inggris selanjutnya bakal memimpin untuk waktu yang panjang dan menolong kami sedikit berkembang pada sejumlah kompetisi.”

“Cuma ada banyak kebaikan bertahan lama dengan sosok manajer dan perlu ada sebuah tumpuan di mana pemain-pemain menyaksikan antara satu dengan yang lain dan mengatakan ‘Ini tak cukup baik’. Dengan Sam, entah hal tersebut hadir dari mana. Saya hanya pikirkan  ‘Siapa lagi selanjutnya’.”

“Saya tak ingin katakana kalau hal ini merupakan sebuah kekacauan. Namun ini tak menyenangkan untuk sepakbola Inggris,” ujar pemain bek Tottenham Hotspur itu.

Inggris, walau dikatakan memiliki ajang domestik terketat, telah lama tidak ikut ambil bagian dalam beberapa kompetisi besar. Di Piala Dunia, setelah finis di urutan keempat di Piala Dunia 1990, paling tinggi sampai dengan babak perempatfinal.

Sama halnya di Piala Eropa. Belum satu kalipun menjadi juara, Inggris paling tinggi hanya sampai dengan babak perempatfinal usai terakhir kali sampai dengan semifinal di tahun 1996.

Semestinya Rooney Angkat Sepatu sejak Euro 2016

Dikatakan kalau Wayne Rooney semestinya angkat sepati dari tim nasional Inggris usai Euro 2016, hal tersebut dikatakan oleh bekas penjaga gawang tim nasional Inggris yaitu Peter Shilton. Dia juga mengatakan alasannya.

Rooney, yang sekarang telah membukukan 116 caps membuat dirinya menjadi seorang pemain outfield (bukan kiper) dengan caps paling banyak bagi Inggris, cuma berselisih 10 laga untuk pecahkan rekor caps paling banyak untuk The Three Lions yang masih ditempati oleh Shilton (dengan 125 caps).

Tetapi, bukan disebabkan rekor caps-nya yang terancam Shilton mengatakan hal itu. Shilton lebih khawatir menyaksikan performa Rooney, yang dikatakan olehnya sudah tak efektif saat bermain menjadi seorang pemain gelandang.

“Saya beranggapan, ia bukan seorang pemain striker lagi. Kita berusaha untuk melihat di mana pantasnya ia sekarang. Namun, bagi saya, ia pun bukan seorang pemain gelandang. Ia tak akan selalu menjadi seorang pemain gelandang,” ucap Shilton.

“Ia menyusul bola ke segala arah, namun saya tak menyaksikan dirinya melakukan hal tersebut dengan efektif.”

“Saya nilai, semestinya ia angkat sepatu usai Euro yang lalu. Bukan dikarenakan rekor saya yang terancam dengan dirinya. Sama sekali tak berhubungan dengan hal tersebut. Jika ia main dengan oke dan menyusul rekor saya maka hal tersebut oke saja,” ujar Shilton.

Ucapan Shilton berbeda dengan respon sang pelatih tim nasional Inggris yaitu Sam Allardyce. Bagi Allardyce, Rooney malah layak untuk memilih tampil di mana saja yang dirinya sukai.

Pada level klub, Rooney memang masih mencetak angka dan menjadi assist. Sampai dengan musim ini berlangsung, ia telah menciptakan 1 angka dan catatkan 2 assist pada 3 laga di Premier League musim 2016/2017. Tetapu, soal bagian dan perannya bermain masih menjadi bahan perbincangan.

Rooney Tetap Jadi Kapten atau Tidak?

Selama 2 tahun terakhir, kedudukan ban kapten tim nasional Inggris berada pada Wayne Rooney. Pada masa Sam Allardyce, Rooney mungkin saja tidak lagi menerima tanggung jawab tersebut.

Rooney menduduki jabatan itu setelah Steven Gerrard pensiun di tim inggris setelah mengakhiri Piala Dunia 2014. Usai kemunduran Gerrard, Rooney memang menjadi seorang pemain yang paling berpengalaman di dalam skuat itu.

Dalam 2 tahun menjadi pemimpin Inggris, Rooney dapat membuat negaranya tersebut maju dengan keadaan sempurna pada tahap kualifikasi di Piala Eropa 2016. Namun, Rooney tidak berhasil mengantarkan Inggris melesat jauh pada putaran final setelah digusur oleh Islandia pada babak 16 besar walau dia membuat timnya unggul lebuh dulu dengan angka yang dicetak lewat tendangan penalti.

Tergusurnya Inggris pada saat yang bersamaan, masa Roy Hodgson telah berakhir dan FA pada akhirnya memilih Sam Allardyce untuk menggantikan posisinya.

Kehadiran sang pelatih baru mulanya diikuti dengan sejumlah perubahan pada sebuah tim, tak terkecuali struktur tim. hal tersebut juga termasuk dengan posisi kapten yang sekarang berada d tangan Rooney.

Bagi Allardyce, dirinya masih perlu mengadakan pembicaraahn terlebih dahulu bersama tim kepelatihan akankah Rooney masih akan memegang posisinya itu di Inggris atau tidak.

“Sangat jauh untuk menebak atau mengambil sebuah keputusan. Saya bakal memutuskan semuanya usai melakukan pertemuan dengan semua pemain dan juga seuruh staf kepelatihan,” ucap Allardyce.

“Ini merupakan hari yang pertama untuk saya melakukan tugas saya menjadi seorang pelatih di tim Inggris dan berjumpa dengan selurug orang,” lanjutnya.

Renaca Allardyce Bikin Inggris Kembali Hebat

Misi yang sulit telah menunggu Sam Allardyce untuk membuat tim nasional Inggris bangkit. Tentang hal tersebut, Allardyce telah memiliki sejumlah cara agar The Three Lions kembali tajam.

Dalam 4 tahun dipimpin oleh Roy Hodgson, Inggris cenderung bermain tak terlihat spesial dan mereka sering merasa sulit kalau bermain di kompetisi besar. 2 Piala Eropa dan 1 Piala Dunia, merupakan hal paling baik yang sudah diraih oleh Inggris dan di Piala Eropa 2012 cuma samapai pada babak perempatfinal.

Usai tergusur pada fase grup di Piala Dunia, dengan mengejutkan Inggris ditahan oleh tim yang baru tampil yaitu Islandia pada babak 16 besar di Piala Eropa yang lalu. Tidak lama kemudian Hodgson langsung hengkang.

Allardyce yang ditunjuk menjadi pengganti posisi dari Hodgson memiliki misi yang berat untuk membuat Inggris kembali berjaya sebagai salah satu negara yang tidak asing lagi dengan sepakbola. Walau begitu, keraguan telah menyelimuti Allardyce sedari pemilihan dirinya.

Publik juga terkejut saat FA menunjuk Allardyce yang sepanjang kariernya lebih sering memimpin beberapa tim medioker dan tidak memiliki trofi mayor satu pun.

Walau begitu, Allardyce optimis kalau dirinya dapat mengerjakan tugasnya dengan baik. Ditambah pelatih yang berusai 61 tahun tersebut telah memiliki rencana agar The Three Lions kembali bangkit.

“Sangatlah penting untuk tim menjadi satu dan berusaha untuk membangkitkan semangat yang oke pada dalam tim dan bersenang-senang,” ucap Allardyce.

“Saat bermain Sepakbola kita perlu menikmatinya dan selama ini saya menikmati karier saya di dunia sepakbola, ini merupakan puncak masa depan saya dan saya begitu berharap dapat menikmatinya,” lanjutnya dalam sesi perkenalan pertamanya menjadi manajer baru Inggris.

Inggris Mungkin Memanggil Pelatih Asing

Usai pelatih sebelumnya Roy Hodgson keluar dari jabatannya, kursi pelatih timnas Inggris pun tak ada yang mengisi. Asosiasi sepakbola Inggris (FA) akan membuka semua pilihan untuk menempati posisi pelatih yang baru.

Hodgson keluar dari posisinya sebagai pelatih timnas Inggris cuma berselang usai timnya tergusur pada babak 16 besar di Piala Eropa 2016. Hasil tersebut menjadi sebuah kegagalan yang besar bagi tim Inggris, ditambah mereka kalah oleh tim yang baru masuk yaitu Islandia.

Sekarang Inggris akan pelatih baru untuk menggantikan posisi Hodgson. Chief Executive FA Martin Glenn mengatakan kepada kubunya hanya akan mengincar sosok paling baik, tanpa memikirkan tentang status warga negara asal.

“Kami mencari seseorang yang paling baik untuk mengisi jabatan itu. Kami tak akan mengesampingkan siapa-siapa,” ucapnya.

“Saya tak ingin menyebutkan nama-nama disini. Ini masih dalam waktu kurang dari 24 jam setelah kami wajib tinggalkan kompetisi.”

“Namun saya telah berlaku konsisten dalam setiap hal kalau kami akan mencari dan dapatkan orang paling cocok, untuk mengantar para pemain hebat ini maju ke depan,” katanya.

Glenn ikut mengatakan permohonan maafnya kepada para pendukung Inggris sebab tim nasionalnya tak dapat melesat semakin jauh lagi. Ia akui penampilan Wayne Rooney dan rekan-rekannya. di bawah level.

“Ini merupakan suatu pesan kepada semua pendukung di Inggris usai penampilan kami di kompetisi ini, kami mengucakan permohonan maaf. Saat mengatakan tentang pertandngan yang sangat penting, bagian dalam hal utama dari kompetisi ini, kami tidak berhasil menggapai target,” imbuhnya.

“Kami merasa begitu kecewa. Memang benar Islandia adalah lawan yang kuat namun kami tak tampil sesuai level kami dan ini tentunya merupakan hal yang harus kami benahi.”

Hodgson Tetap Optimis dengan Inggris Walau Gagal

Roy Hodgson tak berhasil mengantar Inggris bermain cemerlang di Piala Eropa 2016. Tapi ia tetap yakin dengan masa depan Inggris.

Inggris tersingkir pada Piala Eropa 2016 setelah dikalahkan dengan skor 1-2 saat melawan Islandia di babak 16 besar. Ini seperti kembali mengingatkan performa kurang impresif mereka pada tahap grup.

Saat itu Inggris hanya meraih 1 kali menang saat melawan Wales, sedangkan melawan Rusia dan Slovakia mendapat hasil imbang. Statistik hasil tersebut membuat mereka hanya berada pada posisi runner-up di belakang Wales.

Hodgson mengaku kalau timnya tak berhasil mencapai target. Walau begitu, sang pelatih yang mengundurkan diri langsung saat dikalahkan Islandia tersebut menyatakan dirinya yakin dengan masa depan Inggris.

“Merupakan hasil yang kerap dinilai dan dari sejumlah hasil Anda dinilai. Saya tetap optimis pemain-pemain ini akan mencapat keinginan dan menjadi lebih oke dan lebih baik dari sebelumnya,” ucapnya.

“Aku rasa kemajuan akan dicatat oleh tim ini dan suatu saat kita akan menyaksikan Inggris bermain amat sangat cemerlang di suatu kompetisi, dan saya berharap hal tersebut akan terwujud pada tahun 2018.”

“Aku merasa para pemain ini sambil berjalannya waktu mereka menjadi lebih dewasa akan memperlihatkan kalau mereka layak memakai seragam tim Inggris,” ujarnya.

Inggris adalah tim yang memiliki rata-rata pemain dengan umur paling muda pada Piala Eropa 2016 yaitu 25,8 tahun. Sejumlah anggota skuat mereka masih memiliki umur 22 tahun atau di bawah umur tersebut. Ialah Marcus Rashford yang masih berusia 18 tahun, Dele Alli dan Raheem Sterling berumur 21 tahun, serta Harry Kane, Ross Barkley, Eric Dier, dan juga John Stones yang masih menginjak usia 22 tahun.