Tag Archives: Italia

Pique Sebut Kemenangan di Turin Akan Terasa Luar Biasa

Pertandingan menarik bakal terlihat pada pekan ini yaitu laga antara Italia vs Spanyol. Untuk pemain bek Spanyol, Gerard Pique, kemenangan menghadapi Italia akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

Sejumlah bulan yang lalu, kedua kelum saling bertemu di babak 16 besar Piala Eropa 2016. Saat itu, Italia menjadi pemenang lewat 2 angka yang diciptakan oleh Giorgio Chiellini dan Graziano Pelle.

Sekarang, Italia dan Spanyol bakal saling bertemu di babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa. Gli Azzurri bakal menjadi tuan rumah, di mana pertandingan bakal berlangsung di Juventus Stadium pada hari Kamis (6/10/2016) waktu setempat.

Melihat dari pertemuan sejumlah bulan kemarin, formasi 3-5-2 Italia dapat merepotkan Spanyol. Pique juga akui itu. Tetapi, dia lebih sorot karakteristik para pemain yang tampil di formasi itu sebagai sisi utama.

“Memang hal tersebut tentukan, namun saya tak amat percaya di sejumlah angka. Saya lebih melihat karakteristik dari para pemain,” ucap Pique.

Baik Spanyol ataupun Italia mengoleksi poin yang sama yaitu 3. Kedua tim berada di posisi 1 dan 2 klasemen Grup G kualifikasi Piala Dunia 2018 zona UEFA.

Pique pun tak sepemikiran dengan stereotipe yang mengaatakan kalau Italia suka melakukan permainan bertahan dan menanti bola. Dia kemudian memberi contoh dengan Juventus dan Napoli sebagai penolakan anggapan dari stereotipe itu.

“Kami berhasrat kalahkan Italia, kalau berhasil menang di Turin akan jadi sebuah hal yang luar biasa.”

“Tiap orang mengatakan kalau sepakbola Italia defensif. Namun, sejumlah tim seperti Napoli dan Juventus sekarang tampil dengan mengontrol bola dan berusaha untuk menciptakan angka sebanyak mungkin,” ujar Pique.

Ventura Respon dengan Santai Kesalahan Chiellini

Giorgio Chiellini kembali ceroboh ketika Italia betamu ke Israel. Giampiero Ventura sang pelatih Italia merespon hal tersebut dengan santai.

Italia raih kemenangan dengan skor 3-1 pada hari Selasa (6/9/2016) dinihari WIB ketika bertamu ke Israel pada pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2018. 3 angka Gli Azzurri diciptakan oleh Graziano Pelle , Antonio Candreva, dan Ciro Immobile.

Sedangkan angka yang diciptakan Israel dicetak oleh Tal Ben Haim. Angka ini tidak lepas dari kecerobohan yang dilakukan Chiellini.

Pemain bek Juventus tersebut tidak berhasil menguasai bola dengan baik, sampai dapat diambil alih oleh para pemain penyerang Israel. Tomer Hemed lalu memberikan bola kepada Ben Haim dan akhirnya berhasil menjadi angka.

Chiellini juga yang mengakibatkan Italia harus bersusah payah dari menit 55, saat ia dikeluarkan dari lapangan oleh wasit karena diberi kartu kuning kedua. Itu merupakan partai kedua dengan berturut-turut Chiellini bermain dengan rentan.

Sebelumnya pernah terjadi saat Italia dikalahkan dengan skor 1-3 oleh Prancis pada pertandingan ujicoba yang berlangsung pada hari Jumat (2/9) lalu, Chiellini lakukan 2 kesalahan yang berakhir dengan kebobolan Prancis. Ia tak berhasil memotong umpan dari Paul Pogba yang kemudian Anthony Martial membuka angka bagi Prancis, kemudian tak berhasil mengantisipasi gerakan Olivier Giroud yang berakhir dengan angka kedua bagi Le Bleus.

Ventura merespon hal ini dengan santai. Walau demikian, dengan menyeluruh ia merasa puas dengan performa timnya dan melihat adanya kemajuan dibanding pertandingan sebelumnya.

“Chiellini biasanya menyebabkan 2 kesalahan selama 5 tahun, maka ia memakai semua untuk melakukan kecerobohan,” ujarnya.

“Kami tunjukkan beberap hal baik, namun juga kemasukan angka pada pertandingan di mana kami berhasil unggul tanpa meneripa satupun tendangan yang mengarah ke gawang hingga saat itu. Saya merasa puas sebab kami membuat sejumlah kesempatan dan tampil sebagai sebuah tim, walau dalam 10 menit merasa kesusahan karena Chiellini dikeluarkan dari lapangan.”

Ingat 4 Tahun Lalu Mueller Sekarang Pede Hadapi Italia

4 tahun sebelumnya, Thomas Mueller menangis usai Jerman dikalahkan oleh Italia. Dia mengatakan akhir pekan sekarang bakal menjadi lain.

Pada babak perempatfinal Piala Eropa 2016 Jerman dan Italia akan saling berhadapan. Laga yang akan berlangsung pada hari Minggu (3/7/2016) dinihari WIB, di Nouveau Stade de Bordeaux, Bordeaux dengan waktu kick-off pukul 02.00 WIB.

Pada Piala Eropa terakhir, kedua tim pun perlu berjibaku pada tahap eliminasi, yaitu di babak semifinal. ketika itu Italia menjadi pemenang pada laga tersebut dengan skor 2-1 saat menghadapi Jerman, untuk masuk ke babak final.

Mueller pada laga 4 tahun lalu tersebut bermain menjadi pemain pengganti ketika laga memasuki menit ke 71 di tim Jerman, sangat mengingat pada laga itu terutama tentang kekecewaan yang dia rasakan setelah laga berakhir.

“Aku merasa cukup kecewa dengan laga yang terjadi pada tahun 2012 silam. Aku diturunkan pada tengah-tengah laga dan hal tersebut selesai dengan tangisan. Namun tidak perlu merasa malu untuk menjatuhkan air mata, khususnya karena tidak akan ada tangisan di tahun 2016 ini,” ujar Mueller kepada Bild.

“Saya sangat yakin pada pertandingan hari Sabtu nanti, kami dapat menjalaninya. Hari tersebut akan menjadi pertandingan yang tidak mudah namun harus kami jalani. Kami telah menunjukkan kalau kami telah siap untuk semua babak padai fase eliminasi ini.

“Kami memliki Pertahanan yang cukup kokoh dan ada segi menjadi satu dalam tim. Babak perempatfinal tidak akan menjadi babak yang terakhir untuk kami,” ucap dia.

Chiellini: Bukti dan Penembusan yang Layak

Italia bermain meyakinkan untuk mengalahkan Spanyol di Piala Eropa 2016. Giorgio Chiellini menyebut hal tersebut sebagai sebuah bukti dan penembusan dendam yang pantas.

Italia meraih kemenangan dengan skor 2-0 saat melawan Spanyol pada laga yang berlangsung di Stade de France, pada hari Senin (27/6/2016) malam WIB. Angka yang di cetak Chiellini pada menit ke 33 dan Graziano Pelle saat laga memasuki injury time membuat pasti perjalanan Gli Azzurri ke babak perempatfinal.

Tim besutan Antonio Conte ini tampil gemilang dan lebih memberi ancaman. Lewat menguasai bola sampai 42 persen, Italia melesatkan 11 usaha dengan 7 di antaranya mengarah ke gawang. Sementara Spanyol melakukan 13 usaha dengan 5 di antaranya mengarah ke sasaran.

Hasil positive ini menjadi sebuah bukti serta penembusan dendam Italia. Mereka memperlihatkan diri memiliki kualitas untuk mengalahkan sang juara di Piala Eropa terakhir dan membuat keunggulan Spanyol terhenti.

Seperti yang di ketahui, ini adalah keempat kalinya Italia bertemu dengan Spanyol pada Piala Eropa. Sebelumnya mereka satu kali pun tak pernah menang. Pada babak perempatfinal di Piala Eropa 2008, Italia kalah lewat adu penalti setelah bermain imbang dengan skor 0-0.

Kedua tim kembali bertemu pada fase grup di Piala Eropa 2012 dan kembali bermain imbang dengan skor 1-1, sebelum akhirnya kembali bertemu di babak final. Pada babak puncak tersebut, Italia dikalahkan dengan skor telak 4-0.

“Kami memiliki beberapa hal untuk ditunjukkan dan untuk menembus dendam. Kami pantas meraihnya dan sebenarnya membuat pertandingan terlalu menjadi cemas pada 15 menit sebelum akhir, sebab kami semestinya dapat mengakhirnya lebih cepat,” ucap Chiellini.

“Kami sangat inginkan kemenangan. sebelumnya saya merasa kami telah memprediksi ini, karena di bulan Maret pada persahabatan, laganya kurang lebih seperti ini juga. Kami merasa tampil bagus dan ingin menembus dendam yang telah bertahun-tahun di ungguli Spanyol.”

“Ini merupakan sebuah permulaan. Kami bakal merasakan kemenangan ini hingga beberapa jam ke depannya, namun kami akan melangsungan ini dari laga ke laga. Hal baik telah dimulai saat ini,” ujarnya.

Italia Tak Hanya Hebat Soal Pertahanan

Italia telah memperlihatkan performanya tidak cuma Bertahan atau Catenaccio. Hal tersebut ditegaskan oleh Allenatore Antonio Conte setelah Italia berhasil menangkan laga dengan skor 2-0 saat berhadapan dengan Spanyol.

Tiket untuk masuk ke babak perempatfinal Piala Eropa 2016 sukses didapatkan oleh Italia usai angka yang dicetak oleh Giorgio Chiellini dan Graziano Pelle mengalahkan sang juara bertahan, pada hari Selasa (28/6/2016) dinihari WIB.

“Saya sadar para pemain mempunyai sesuatu yang hebat pada diri mereka masing-masing. Saya sebelumnya sempat menyatakannya, sebab lebih mudah untuk membicarakan hal tersebut seusainya,” ujar Conte.

Tercatat kalau selama pertandingan Italia melakukan 11 kali usaha dengan 7 di antaranya mengara ke gawang, 2 lainnya melenceng, serta 2 kali di tahan. Sementara Spanyol melakukan 13 kali usaha dengan 5 di antaranya mengarah ke gawang, 6 lainnya masih melebar, dan 2 kali berhasil di tahan.

Pertandingan tersebut pun dikatakan oleh Conte bahwa Italia tak hanya memiliki cara bermain bertahan atau ahli soal pertahanan. Nyatanya ialah 2 angka yang berhasil mereka cetak untuk menembus babak perempatfinal agar siap berhadapan dengan Jerman.

“Para pemain begitu hebat. Sekarang kami perlu beristirahat untuk kembali pulih sebab ada laga yang sangat berat lainnya yaitu menghadapi Jerman. Namun kami telah memperlihatkan kalau Italia tidaklah soal Catenaccio,” ucap Conte.

“Xavi berikan kami sanjungan paling oke sebab dia sempat mengatakan kalau Italia membuat dirinya ingat akan kerja sama dari Barcelona dan Atletico Madrid. Hal tersebut telah menunjukkan kalau yang memainkan sepakbola pasti akan memahaminya,” kata dia.

Buffon Sebut Perjalanan Italia Masih Jauh

Kalahkan Spanyol disebut sebagai hasil yang baik oleh Gianluigi Buffon sang kapten timnas Italia. Namun ia pun ingatkan Italia kalau langkah mereka masih jauh.

Italia melangkah ke babak perempatfinal di Piala Eropa 2016 setelah kalahkan sang juara 2 periode terakhir yaitu Spanyol. Gli Azzurri yang bermain dengan impresig berhasil memenangkan laga dengan skor 2-0 lewat angka yang dicetak oleh Giorgio Chiellini dan Graziano Pelle pada pertandingan yang berlangsung di Stade de France, pada hari Senin (27/6/2016) malam WIB.

Buffon mengatakan skor itu masih belum menggambarkan berlangsungnya laga, menganggap sebenarnya Italia dapat menang dengan angka yang lebih besar. Namun ia pun akui semenjak jeda laga jalannya laga jadi berbeda, tak sama dengan babak pertama yang saat itu timnya unggul dan sangat mengancam.

“Kami tunjukkan penampilan yang oke, namun usai lewati babak pertama laganya menjadi kurang dari yang seharusnya kami raih. Kami sadar kalau inersia laga dapat berganti usai jeda pergantian babak,” ucap Buffon.

“sudah terbukti dengan permasalahannya, namun kami bukan cuma konsentrasikan pertahanan. Malah, kami memiliki beberapa peluang untuk membuat keunggulan menjadi ganda sebelum Pelle mencetak angka.”

“Usai tahun ke tahun kalah oleh Spanyol, kami membalasnya. ini memang hanay pertandingan di babak 16 besar, namun ini membaik dibanding tak ada sama sekali,” sambung kapten tim Italia ini.

Kalahkan Spanyol adalah sebuah bukti dan pembalasan dari Italia. Karena pada 3 laga sebelumnya di Piala Eropa mereka tak 1 kali pun meraih kemenang, 2 kali kalah dan 1 kali seri. Salah satu kekalahan tersebut diterima pada babak final tahun 2012 yang lalu dengan skor telak 0-4.

Walau begitu, Buffon ingatkan kepada timnya untuk tidak senang terlalu lama. Karena selanjutnya Jerman telah menunggu pada babak perempatfinal dan beberapa lawan berat lainnya masih menanti.

Italia Janji Tampil Beda Hadapi Spanyol

Italia dikalahkan Republik Irlandia pada pertandingan terakhir di sesi grup. Telah dinantikan oleh Spanyol pada babak 16 besar, Italia berjanji akang tunjukan performa yang beda.

Italia, yang telah pasti akan menjadi juara di Grup E, melakukan beberapa perubahan saat berhadapan dengan Republik Irlandia pada pertandingan terakhir di sesi grup, pada hari Kamis (23/6/2016) dinihari WIB. Antonio Conte lakukan pemutaran pemain, termasuk manurunkan Salvatore Sirigu sebagai penjaga gawang.

Selama pertandingan berlangsung, Italia lebih sering berada dalam tekanan dengan serangan yang dilancarkan oleh tim Republik Irlandia yang perlu mendapatkan hasil positive untuk mengunci diri agar lolos ke babak 16 besar. Tercatat Italia hanya melesatkan 5 usaha dengan 1 diantaranya yang mengarah ke sasaran. Sedangkan Republik Irlandia bermain dengan agresif melakukan 12 usaha dengan 4 di antaranya mengarah ke gawang.

Sampai akhirnya, Italia harus kalah dengan skor 0-1. Angka yang didapat Republik Irlandia dicetak oleh Robbie Brady 5 menit sebelum pertandingan akan berakhir dengan tandukannya yang menuntaskan umpan dari Wes Hoolahan.

Hasil itu tidak akan menggeser Italia dari urutan teratas klasemen di Grup E dengan memiliki poin 6. Sedangkan dengan kemenangan tersebut, Republik Irlandia yang memiliki 4 poin berhasil lolos ke babak 16 besar dengan cara menempati urutan ketiga terbaik.

Pada babak 16 besar, Italia telah dinanti oleh tim juara bertahan yaitu Spanyol. Sirigu menjanjikan kalau Italia akan tunjukan performa yang beda saat melawan La Furia Roja.

“Disayangkan tentang hasil laga dan kesalahan yang kami lakukan di akhir. Kami berusaha untuk tampil dengan maksimal malam ini, walau telah meraih urutan paling atas di klaseman, namun kecewa datang dengan didapatnya kekalahan ini,” ujar Sirigu.

“Ketepatan kami masih kurang pada malam ini, namun ada sejumlah hal baik,” sambung Sirigu.

“Italia yang dengan cara berbeda akan hadapi Spanyol dan kami pun bakal tampil dengan level psikologi yang tidak sama,” imbuhnya.

Italia Akan Lebih Siap Melawan Spanyol

Italia dikalahkan oleh Republik Irlandia di pertandingan yang sudah tidak lagi menentukan untuk mereka. Menurut Gli Azzurri, hasil negative ini akan menolongnya untuk lebih siap berhadapan dengan Spanyol.

Pertandingan menghadapi Irlandia yang akan berlangsung di Stade Pierre-Mauroy, Lille Metropole, pada hari Kamis (23/6/2016) dinihari WIB, tidak membuat efek apapun untuk Italia. Apapun yang akan terjadi pada pertandingan itu, mereka telah dipastikan masuk ke babak 16 besar di Piala Eropa 2016 dengan status sebagai juara di Grup E.

Italia yang memainkan para pemain pelapis, pada akhirnya harus kalah juga melawan Irlandia dengan skor akhir 0-1. Angka semata wayang yang diciptakan Irlandia tercipta lewat Robbie Brady di menit ke 85.

Di laga ini, Italia lebih unggul lewat menguasai bola dari 54 persen banding 46 persen. Namun, Irlandia membuat kesempatan lebih banyak. Irlandia melakukan 12 usaha dengan 4 di antaranya melesat ke sasaran, sedangkan Italia hanya melakukan 5 usaha dengan 1 diantaranya mengarah ke gawang.

“Yang kami incar ialah bermain oke dan terus berupaya untuk dapatkan hasil positive malam ini. Kami memiliki 23 pemain di skuat, kami memiliki misi yang serupa dengan yang kami pikirkan,” ucap pemain bek Italia yaitu Mattia De Sciglio.

“Kami tunjukkan permainan yang semakin oke pada babak kedua dan membuat sejumlah kesempatan mencetak angka, namun kami tahu mereka akan melancarkan banyak umpan panjang untuk bisa membuat maksimal keunggulan mereka dari sisi fisik,” ujar De Sciglio.

“Kami perlu mempertahankan level fokus kami sampai menit akhir,” ucapnya.

Berstatus sebagai juara di Grup E, Italia akan berhadapan dengan tim yang menempati posisi runner-up di Grup D yaitu Spanyol, di babak 16 besar yang akan berlangsung pada hari Senin (27/6) yang akan datang. Bagi De Sciglio, timnya masih belum mempersoalkan Spanyol ketika menghadapi Irlandia. Ia pun optimis dengan kekalahan melawan Irlandia akan membuat mereka semakin siapuntuk hadapi  Spanyol.

Italia Masih incar Poin Penuh Usai Dipastikan Juara Grup

Bagaimanapun hasil pertandingan menghadapi Republik Irlandia tidak akan berpengaruh pada urutan Italia yang berada di urutan paling atas klasemen di Grup E. Walau demikian, Gli Azzurri masih incar angka penuh.

Italia telah pasti akan menjadi juara di Grup E usai meraih hasil positif di 2 laga awal dan berada di urutan paling paling atas. Tim yang dibesut oleh Antonio Conte tersebut menang atas Belgia dengan skor 2-0 dan juga Swedia 1-0.

Italia sekarang berada di urutan teratas klasemen dengan memiliki 6 poin. Mereka diikuti oleh Belgia dengan 3 poin, Swedia 1 poin, dan Republik Irlandia 1 poin.

Keadaan itu membuat Italia tidak bisa di singkirkan dari tempat mereka yang saat ini ditempati. Mereka juga tidak memiliki beban apapun di pertandingan melawan Irlandia yang berlangsung di Lille, pada hari Rabu (22/6) yang akan datang.

“Itu bukan merupakan laga yang tidak ada artinya. Kami dapat dipastikan lolos dengan urutan pertama, namun itu semua merupakan sebuah laga yang besar. Kami tidak akan memandang laga lain pada grup ini. Sangatlah berarti untuk menyelesaikan tahap grup dengan memiliki 9 poin,” ujar pemain gelandang Italia yaitu Daniele De Rossi.

Biarpun Italia menargetkan hadil laga menang, bisa saja Conte bakal menciptakan rotasi pada pemain supaya timnya akan tetap fit ketika melangsungkan laga pada partai 16 besar.

“Kami paham kalau ada sejumlah pemain oke pada bangku cadangan, yang dapat memperlihatkan kualitas mereka masing-masing. Kami bakal menghormati apa yang telah dipilihan oleh pelatih,” ucap De Rossi.

Capello: Italia Salah Satu Calon Juara

Italia diyakini akan menjadi salah satu lawan dan calon juara pada Piala Eropa 2016 dilihat dari performanya berhadapan dengan sejumlah laga selama ini.

Hal tersebut diungkapkan oleh bekas pemain dari Gli Azzurri yaitu Fabio Capello yang memiliki pengalaman serupa menjadi seorang pelatih di beberapa timnas seperti Inggris dan Rusia.

Anggapannya pun turut diikuti dengan kenyataan kalau skuat Italia yang dibesut oleh Antonio Conte sekarang telah dipastikan akan masuk ke babak 16 besar dengan gawang yang tak pernah kebobolan, karena kokohnya dalam bertahan yang telah menahan tim nasional Belgia dan juga Swedia.

“Saya yakin Italia dapat menjadi lawan untuk trofi sebab mereka merupakan tim yang sangat tidak mudah untuk dilawan,” ujar Capello.

“Mereka merupakan sebuah tim yang terlalu memijak bumi, memiliki gara bermain teratur yang pasti menunjukkan performa yang maksimal di Piala Eropa. Semua tim perlu berhati hati dengan kami sebab sekarang ini kami dapat menciptakan angka lewat sepakan bebas atau tendangan pojok, namun yang paling penting adalah kami memiliki pertahanan kokoh yang tidak mudah untuk di lewati.” sambung dia.

“Sampai sekarang ini tak ada satu tim yang nampak jauh lebih hebat daripada yang lainnya. Telah muncul beberapa tim yang telah dapatkan kemenangan namun tak sangat impresif. Tak ada lagi sebuah tim yang sungguh-sungguh tampil dominan, namun hal tersebut sering kali berlangsung pada tahap-tahap pertama kompetisi. Cara bermain sesungguhnya akan dilakukan saat ini, ketika sejumlah tim yang sungguh mengancam telah bermunculan dan siapa saja calon juaranya,” ucapnya.