Tag Archives: Kroasia

Napoli Rekrut Pemain Muda Tim Nasional Kroasia

Napoli selalu membuat kuat skuatnya sebelum berakhirnya bursa transfer musim panas ini. Il Partenopei belum lama ini mendatangkan pemain gelandang muda dari timnas Kroasia yaitu Marko Rog.

Rog yang sekarang berusia 21 tahun, sempat tampil untuk klub lokal yaitu Dinamo Zagreb di negaranya. Performa Rog sejak bermain untuk Zagreb menjadi sebuah alasan mengapa Napoli merekrut dirinya.

Rog musim kemarin bermain luar biasa dengan menciptakan 6 angka dalam 50 laga bersama klubnya. Rog pribadi merupakan pemain lulusan akademi Varazdin yang pernah membela tim senior klub tersebut sebelum hijrah ke RNK Split pada tahun 2014.

Tercatat, Rog merupakan seorang pemain yang posisinya menempati bagian gelandang bertahan dan ia diproyeksikan bakal menambah kuat garis tengah Napoli.

Rog pada musim ini akan menyandang status sebagai pemain yang dipinjamg dengan dana sebesar 1,5 juta euro dari Dinamo sebelum dimantapkan menjadi pemain tetap nantinya pada akhir musim 2016/2017. Untuk membuat Rog menjadi pemain tetap, Napoli rumornya perlu membayar dana sebesar 12,5 juta euro.

“Usai melangsungkan tes medis, kami pada akhirnya dapat menyatakan kehadiran pemain hebat lainnya di Napoli,” ucap Aurelio De Laurentiis sang Presiden Napoli pada akun twitter-nya.

“Pembelanjaan ini buat kami menambah kuat garis tengah kami menjadi yang paling sempurna, yang mana membuat mudah pekerjaan Maurizio Sarri untuk memakai bermacam susunan, dari 3 pemain tengah jadi 2 pemain tengah bergantung dengan lawan-lawan di Italia dan Eropa,” lanjut De Laurentiis.

“Saya ucapkan selamat datang di klub Napoli, Rog,” sambungnya.

Rog pribad telah bermain untuk tim nasional senior Kroasia 4 kali dan ikut dalam Piala Eropa kemarin.

Quaresma Ambil Tugas Ronaldo

Banyak orang mungkin telah sedikit melupakan nama Ricardo Quaresma. Tapi dirinya tetap ada untuk Portugal di waktu yang tempat.

Quaresma muncul sebagai pahlawan yang membuat Portugal menangkan laga melawan Kroasia pada laga babak 16 besar di Piala Eropa malam tadi, atau tepatnya hari Minggu (26/6/2016) dinihari WIB.

Belum lama memasuki lapangan pada menit 87, berperan menggantikan posisi Joao Mario, pemain tersebut mencetak angka satu-satunya pada menit 117. Angka itu merupakan ke 8-nya selama 54 kali tampil untuk Portugal.

Pemain sayap yang berusia 32 tahun tersebut tahu betul kemana ia perlu berlari saat timnya melancarkan serangan. Ketika Nani melesatkan umpan pada Cristiano Ronaldo yang berada di sisi kanan, Quaresma memasuki tengah kotak. Saat Ronaldo melesatkan tendangan ke arah tiang dekat, Quaresma melaju ke mulut gawang. Dan akhirnya saat tendangan Ronaldo bisa ditahan kiper Danijel Subasic, Quaresma yang berada di tempat yang oke untuk menciptakan rebound. Dan dengan mudah ia menyundul bola dan akhirnya Portugal berhasil masuk ke babak perempatfinal.

“Kami berusaha dengan keras. Kami tahu bermacam-macam kesulitan, serangan seperti apa yang bakal kami berhadapan dengan mereka. Bagiku, penampilan kami begitu oke dan kami yakin selalu Lalu kami ucapkan selamat karena dedikasi yang kami berikan ini,” ucap sang penyelamat.

Biarpun nama Quaresma sempat berkibar ketika bermain untuk para klub atas seperti FC Porto, Barcelona, Chelsea, dan Inter Milan, sebenarnya tak kerap cemerlang pun di timnas. Dia dapat dikatakan tak sering turun pada kompetisi besar.

Tidak ditunjuk untuk masuk ke dalam tim di Piala Eropa tahun 2004 dan Olimpiade tahun 2004, Quaresma pernah bermain pada babak kualifikasi di Piala Dunia tahun 2006, namun namanya tidak dicoret pada daftar tim untuk putaran final.

Dia terdaftar dalam skuat di Piala Eropa tahun 2008, namun cuma untuk menjadi pemain cadangan. Lalu Quaresma tak ikut turun di Piala Dunia yahun 2010, Euro 2012, dan Piala Dunia tahun 2014.

Portugal Kalahkan Kroasia di Waktu Tambahan

Portugal sukses lolos ke babak perempatfinal di Piala Eropa ini. Angka yang satu-satunya tercetak pada laga itu dicetak oleh Ricardo Quaresma pada saat laga memasuki babak tambahan dan akhirnya membuat mereka meraih kemenangan dengan skor 1-0 saat berhadapan dengan Kroasia.

Dalam laga yang berlangsung di Stade Bollaert-Delelis, pada haro Minggu (26/6/2016) dinihari WIB, Kroasia tampil lebuh unggul dalam menguasai bola sampai 58 persen. Namun keunggulan tersebut tidak seimbang dengan jumlah serangan yang mengancam gawang lawan.

Bahkan antara tim tersebut tidak bisa melakukan usaha yang mengarah ke gawang dalam 90 menit. Tidak ada anga yang tercetak saat laga berlangsung pada waktu normal, pertandingan pun pada akhirnya berlangsung sampai ke babak tambahan. Keadaan pernah terlihat tidak berubah, hingga memasuki menit-menit laga akan berakhir.

Lewat sebuah serangan, kesempatan Kroasia oleh Ivan Perisic terbentur tiang gawang. Yang membuat Portugal langsung lancarkan serangan balik dan berhasil dituntaskan dengan baik. Tendangan Cristiano Ronaldo ditahan, bola yang memantul lalu dicocor  Quaresma dengan mudah ke arah gawang yang kosong.

Secara keseluruhan, Portugal hanya memiliki 5 usaha dan 2 di antaranya melesat ke sasaran, kedua tim tersebut tercatat pada babak tambahan. Sementara Kroasia memiliki 15 usaha dan tak ada 1 pun yang mengaran ke sasaran.

Hasil pada laga ini membuat Portugal berhasil masuk ke babak perempatfinal. Mereka di laga berikutnya akan bertemu dengan tim nasional Polandia.

Kroasia Berlinang Air Mata

Penampilan meyakinkan dari Kroasia pada fase grup akhirnya disudahi dengan kesedihan pada pertandingan babak 16 besar. Wajar kalau para pemain menangis karena nasib yang mereka hadapi.

Setelah laga menghadapi Portugal yang berlangsung di Stade Bollaert-Delelis, pada hari Minggu (26/6/2016) dinihari WIB, beberapa pemain Kroasia terlihat tak dapat menahan airmatanya, usai mereka pasti kalah dengan skor 0-1 pada saat perpanjangan waktu.

Darijo Srna sang Kapten menyundul dengan posisi jongkok, dan terlihat sesenggukan. Dengan umurnya yang telah menginjak usia 34 tahun, bisa saja hal tersbut merupakan momen terakhir Srna berada di  tim nasional Kroasia.

Pemain bek kanan yang dari tahun 2003 bermain untuk klub Shakhtar Donetsk tersebut melangsungkan Euro 2016 dengan hebat. Tak hanya menjadi seorang pemimpin berkharisma, ia pun tampil di setiap laga dengan cemerlang.

Kesedihan yang tak bisa ditahan pun muncul dari Luka Modric. playmaker oke ini nampak begitu sedih dengan kalahnya tim atas Portugal. Sama halnya dengan Domagoj Vida. Pemain bek yang bermain oke ini, dengan tempatnya berdiri yang agresif, tiba-tiba menjadi lesu karena kekalahan itu, menangis di tengah lapangan hijau.

Tak heran Kroasia lantas bersedih hati karena kekalahan mereka. Karena, mereka bermain dengan cemerlang pada tahap grup, tak pernah kalah dalam 3 laganya, ditambah mengalahkan tim unggulan yaitu Spanyol.

Peforma yang mereka tunjukkan saat hadapi Portugal pun sangan bagus. Tim besutan Ante Cacic lebih unggul lewat menguasai bola, dan melakukan 3 kali usaha yang lebih sering dibanding tim lawan. Mereka kurang beruntung, cuma 3 menit sebelum babak perpanjangan berakhir, sementara bisa saja mereka memiliki nasib yang bagus saat adu penalti.

“Aku tidak dapat mengatakan setiap respon tim kami pada ruang ganti. Namun, Aku tak pernah melihat kesedihan yang seperti itu,” ujar pemain gelandang, Ivan Rakitic.

“Walau merasa sedih dengan hasil yang tak adil, kami ucapkan terima kasih untuk semuanya. Aku rasa semua orang dapat melihat, kami sudah mengeluarkan semua yang kami mampu.”

Kroasia Ingin Buat Ronaldo Kembali Tumpul

Dengan tak berhasil mencetak angka pada 2 pertandingan awal, Cristiano Ronaldo membalasnya dengan pertandingan terakhir Portugal pada tahap grup. Kroasia bakal mencari cara supaya Ronaldo kembali tumpul.

Ronaldo tidak mencetak angka di 2 pertandingan pertama Portugal sebelumnya, yang saat itu menghadapi Islandia dan Austria. Pemain biintang Real Madrid tersebut baru kembali mencetak angka di Piala Eropa ini ketika Portugal tampil imbang dengan skor 3-3 melawan Hongaria pada babak terakhir.

Tak hanya 2 angka meyakinkan itu, 2 penyelamatan Portugal saat tertinggal dan diancam kekalahan, perolehan ini pun akan berarti bagi Ronaldo. Angka-angka tersebut akan membuat kepercayaan diri Ronaldo kembali pada level paling tinggi dan targetkan Kroasia menjadi incaran berikutnya.

Pada sisi lain, Kroasia menyadari kalau Ronaldo pantas diberi perhatian yang istimewa, supaya angka yang ia cetak ke gawang Hongaria tak mereka alami. The Blazers akan mencari tahu bagaimana menahan pemain yang berusia 31 tahun tersebut untuk jalani laga yang akan berlangsung di Stade Bollaert-Delelis, pada hari Minggu (26/6/2016) dinihari WIB.

“Ronaldo tentunya merupakan pemain yang paling oke di dunia dan ia sudah membuktikan hal tersebut pada babak terakhir,” ucap pemain penyerang Kroasia Nikola Kalinic.

“Mereka begitu mengandali dirinya dan keseringan menanti apa yang dilakukan olehnya. Sangat sulit untuk mengawalnya, namun kami akan memeriksa untuk berusaha mencari tahu bagaimana meredamnya,” lanjutnya.

Ronaldo peribadi adalah pemain yang memiliki total usaha menciptakan angka paling banyak pada tahap grup, dengan total 33 usaha dilancarkan. Tapi dari jumlah tersebut, ia mencatat 8 yang mengarah ke gawang dan 2 diantaranya menjadi gol.

Tentang ancaman ke gawang, Ronaldo masih jauh dari teman 1 timnya di Madrid yang juga bermain untuk Wale yaitu Gareth Bale. Bale telah melakukan 11 usaha yang melesat ke sasaran cuma 16 usaha dan telah mencatatkan 3 cetak angka.

Kroasia: Kami Bakal Unggul dan Menang Melawan Portugal

Dengan kepercayaan diri yang besar Kroasia melihat Portugal. Nikola Kalinic optimis kalau timnya dapat bermain lebih unggul dan menangkan laga atas Portugal.

Kroasia akan melawan Portugal di partai 16 besar pada Piala Eropa ini yang akan berlangsung di Stade Bollaert-Delelis, pada hari Minggu (26/6/2016) dinihari WIB. Laga antara 2 tim ini menjadi salah satu laga yang imbang dari sisi materi pemain dan sebab itulah pantas diprediksikan berlangsung dengan ketat.

Walau begitu, Kroasia tentunya mungkin akan melawan tim yang lebih mudah mengingat Portugal yang awal diramalkan dapat menjadi juara di Grup F. Sedangkan Kroasia sukses menjuarai di grup, Cristiano Ronaldo dan rekan-rekannya. Bahkan hanya menempati urutan ketiga pada grupnya dan berhasil memasuki babak 16 besar pun karana jalur urutan ketiga tersebut.

Mau bagaimanapun, Kroasia tegaskan mereka siap melawan salah satu tim dengan para pemainnya itu.

“Kami mungkin dapatkan lawan yang terbilang mudah, namun kami perlu melawan sebuah tim yang memiliki kualitas tinggi dan didalamnya ada para pemain yang hebat. Namun semuanya tergantung dengan kami, penampilan kami, dan saya optimis bisa menjadi pemenang,” ucap Kalinic.

Kroasia layak sangat pede sebab sukses masuk ke babak 16 besar dengan menyandang status juara di Grup D yang bisa dikatakan tidak mudah untuk dilewati. Mereka malah bisa menangkan laga atas juara Piala Eropa sebelumnya yaitu Spanyol, usai sebelumnya tundukkan Turki lebih awal dan bermain imbang melawan Republik Ceko.

Melihat laga Portugal di tahap grup yang tak pernah menang, di mana hanya dapatkan hasil seri pada 3 pertandingan, Kalinic yakin Kroasia dapat menangkan laga dengan impresif. Dia mempercayai timnya bisa menang serta lebih mendominasi laga.

Usai Menang Atas Spanyol, Kroasia Makin Pede

Beberapa pemain Kroasia di istirahatkan namun mereka masih dapat menangkan laga atas Spanyol. Partai 16 besar pun dimasuki oleh Kroasia dengan kepercayaan diri yang tinggi.

Lebih awal tertinggal di pertandingan yang berlangsung pada hari Rabu (22/6/2016) dinihari WIB, Kroasia mampu memutar balik keadaan dan akhirnya berhasil menang dengan skor 2-1 saat melawan Spanyol yang adalah juara di Piala Eropa 2 edisi yang lalu.

Jadi Spanyol juga akhirnya merasakan lagi kekalahan saat berada di Piala Eropa usai tak lagi merasakan hal serupa semenjak 20 Juni 2004. Baru saat inilah Spanyol dikalahpad pada pertandingan di Piala Eropa usai lebih dulu unggul.

Menariknya, sang pelatih Ante Cacic tak memainkan skuat utamanya. Dia akui menahan 5 pemain untuk istirahat pada pertandingan menghadapi Spanyol, termasuk tak menurunkan playmaker Luka Modric dan juga pemain penyerangnya Mario Mandzukic.

“Sebelum pertandingan ini aku berharap bisa turunkan di pertandingan selanjutnya di babak 16 besar dengan pemain-pemain yang masih fit. Ini adalah suatu wujud besar dan saat ini kami bisa lebih pede,” ujar Cacic.

Hasil itu membawa Kroasia masuk ke babak 16 besar menjadi juara di Grup D, serta menggusur Spanyol jadi berada di posisi runner-up grup sehingga akan melawan Italia di partai itu. Umumnya, Spanyol pun ada di setengah bagan yang didalamnya ada beberap tim hebat seperti Jerman, Prancis, dan Inggris. Sedangkan Kroasia malah kebalikannya.

“Kita dapat berbincang tetangan bagaimana setengah bagian dari daftar lebih sesuai namun tetap saja Anda perlu menangkan semua laga. Bisa saja kami memiliki langkah yang semakin mudah, namun kami perlu melangkan perlahan-lahan,” katanya.

“Tim ini layaknya negeri milik kami. Pemain-pemain telah menunjukkan cara menjadi wakil negaranya dan juga bagaimana harus bersikap,” ucap Cacic.

De Gea Tidak Bersalah Atas Cetak Angka Kroasia

David de Gea dinilai sebagai penyebab terjadinya kekalahan bagi Spanyol saat melawan Kroasia. Walau begitu, Vicente del Bosque sang pelatih La Furia Roja tidak beranggapan sama dengan penilaian tersebut.

Sebelum pertandingan terakhir di Grup D melawan Kroasia, pada hari Rabu (22/6/2016) dinihari WIB, Spanyol tidak pernah dibobol sampai dengan 735 menit atau dalam 7 laga berturut-turut semenjak ditembus oleh pemain penyerang dari Italia yaitu Antonio Di Natale, di pertandingan pertama fase grup pada 4 tahun yang lalu.

Tak hanya itu, kokohnya garis belakang Spanyol pun terbukti sebab mereka tidak pernah kemasukan bola lebih dari 1 angka semenjak ditundukkan oleh Prancis pada Piala Eropa tahun 2000 dengan skor akhir 1-2.

Tapi, setiap catatan oke tersebut telah hancur karena laga yang berlangsung di Stade De Bordeaux saat mereka mau tak mau harus menerima kekalahan melawan Kroasia dengan skor 1-2. Lebih dulu unggul dengan angka yang dicetak Alvaro Morata, sebelum akhirnya 2 angka yang tercipta lewat Nikola Kalinic (menit 42) dan Ivan Perisic (menit 87) membobol gawang yang di jaga De Gea.

De Gea akhirnya dikaitkan dengan kebobolan angka itu, mengingat 2 angka itu masuk ke dalam gawang yang dijaga oleh penjaga gawang yang berusia 26 tahun itu. Sejumlah angka yang semakin membuat butuk catatan kemasukan angka De Gea sejak menjadi penjaga gawang utama dari ‘Tim Matador’.

Karena di 21 laga kompetitif terakhir, Spanyol kemasukan angka 10 kali yang 7 di antaranya tercipta ketika De Gea menjaga gawang. 3 angka lainnya masing masing dijaga oleh Sergio Rico, Sergio Asenjo, dan Kiko Casilla. Sedangkan Iker Casillas yang dinilai telah “habis” malah tak pernah kebobolan.

Walau begitu, Del Bosque sebagai pelatih masih membela pemainnya yang dinilai tidak bertanggung jawab dengan kebobolan angka itu terkain dengan dirinya tidak berusaha dengan maksimal dalam 90 menit pertandingan berlangsung.

“Ia tak banyak berusaha di laga tadi, kami tak dapat salahkan dirinya dalam kebobolan angka itu. Awalnya dengan menyerang balik dan sama dengan yang kedua. Semua pemain bisa disalahkan,” ucap Del Bosque.

Terim: Kalau Saja Turki Unggul Lebih awal

Fatih Terim sebagai pelatih tim nasional Turki telah akui bahwa Kroasia bermain lebih oke. Tetapi Terim menganggap keadaan mungkin akan berbeda jika Turki berhasil mencetak angka lebih awal.

Menjalani laga berhadapan dengan Kroasia yang berlangsung di Parc de Prince, Paris, pada hari Minggu (12/6/2016), di pertandingan awal Grup D, Turki terpaksa harus menerima kekalahan. Angka yang berhasil dicetak oleh Luka Modric membuat Turki kalah dengan skor 0-1.

Sebelum kecolongan angka Modric pada menit ke 41, Turki pernah dapatkan kesempatan baik di menit ke 27. Tetapi sundulan keras yang dilakukan Ozan Tufan yang melanjutkan umpan lambung oleh Gokhan Gonul berhasil dipatahkan oleh Danijel Subasic pada garis gawang.

Terim kecewa dengan kesempatan yang tak berhasil dimanfaatkan pada babak pertama tersebut. Karena di babak paruh kedua, Terim akui kondisi fisik para pemainnya semakin lama semakin menurun.

“Kami tambil lebih baik pada babak pertama. Kroasia lebih oke dibandingkan kami saat memasuki babak kedua, namun kami memiliki kesempatan besar dalam mencetak angka pertama. Kalau kami dapat mewujudkannya, bisa saja hasil laga akan berbeda,” ucap Terim.

“Memasuki babak kedua, tepatnya usai 60 menit, stamina kami semakin lama semakin menurun dan Kroasia memiliki stamina yang lebih baik dibanding kami, mereka memiliki kesempatan lebih banyak.”

Terim pun akui saat dirinya melakukan pergantian pemain saat laga itu berlangsung tidaklah berpengaruh. Biarpun dapatkan hasil negative pada pertandingan awal, Terim masih tidam ingin menyerah.

“Kami berusaha untuk kembali menyatu namun kami tak meraih apa yang kami inginkan dari para pemain pengganti,” lanjut Terim.

“Ini bukanlah akhir. Di periode ini, kami mesti menaikan performa. Kami akan ambil pengalaman untuk dipelajari lewat laga hari ini, terkadang dengan melakukan pergantian pemain belum tentu Anda akan sukses.”

“Kami memiliki 2 pertandingan lagi, berhadapan dengan Spanyol dan Republik Ceko, dan kami bakal menunjukkan performa kami yang paling baik. Kami akan selalu berusaha,” ujarnya.

Turki berikutnya akan berhadapan dengan Spanyol pada tanggal 17 Juni.